Ada satu pertanyaan yang mungkin pernah terlintas di kepala banyak guru:
“Mengapa mendidik anak sekarang terasa semakin sulit?”
Bukan karena anak-anak sekarang tidak cerdas. Justru sebaliknya. Mereka tumbuh dengan akses informasi yang luar biasa luas. Dalam hitungan detik, mereka dapat menemukan pengetahuan yang dahulu membutuhkan berjam-jam untuk dicari.
Namun, di ruang kelas kita menemukan sebuah paradoks.
Anak memiliki lebih banyak akses terhadap pengetahuan, tetapi tidak selalu memiliki keinginan untuk belajar.
Sebagian siswa datang ke sekolah bukan karena ingin memahami sesuatu, tetapi sekadar ingin menyelesaikan kewajiban. Yang penting hadir, naik kelas, lulus, kemudian mendapatkan ijazah.
Padahal pendidikan bukan sekadar perjalanan menuju selembar ijazah.
Ijazah hanyalah tanda bahwa seseorang telah menyelesaikan jenjang pendidikan. Pendidikan yang sesungguhnya adalah proses membentuk manusia agar mampu berpikir, bekerja keras, bertanggung jawab, berkomunikasi, menghargai orang lain, dan menghadapi kehidupan.
Di sinilah tantangan guru semakin besar.
Ketika Sekolah Hanya Dipandang sebagai Tempat Mendapatkan Ijazah
Ada siswa yang berpikir, “Yang penting saya lulus.”
Ketika guru mengajak membaca, ia merasa terbebani.
Ketika diajak mengikuti organisasi, ia berkata tidak punya waktu.
Ketika ditawarkan mengikuti lomba, ia takut kalah.
Ketika diminta berbicara di depan kelas, ia memilih diam.
Ketika diberi tugas, yang dicari bukan bagaimana memahami materi, tetapi bagaimana tugas itu cepat selesai.
Padahal banyak pembelajaran paling berharga justru terjadi di luar buku pelajaran.
Siswa belajar kepemimpinan ketika menjadi pengurus OSIS.
Belajar tanggung jawab ketika menjadi panitia kegiatan.
Belajar keberanian ketika tampil di depan umum.
Belajar bekerja sama ketika mengikuti organisasi.
Belajar menerima kekalahan ketika mengikuti perlombaan.
Belajar memahami masyarakat ketika mengikuti kegiatan sosial.
Sekolah seharusnya bukan hanya tempat mengejar nilai, tetapi tempat berlatih menjadi manusia.
--Ketika HP Lebih Menarik daripada Buku--
Teknologi sebenarnya bukan musuh pendidikan.
Sebuah telepon genggam dapat menjadi perpustakaan, kamus, laboratorium, ruang kelas, studio desain, bahkan pintu menuju dunia.
Masalahnya adalah bagaimana alat tersebut digunakan.
UNICEF dalam kajian tentang kebiasaan daring anak di Indonesia menemukan bahwa mayoritas anak menggunakan internet setiap hari, terutama untuk bersosialisasi dan hiburan. Dalam studi tersebut, anak rata-rata menghabiskan sekitar 5,4 jam per hari untuk aktivitas daring.
Maka kita sering melihat ironi di kelas.
Guru berkata:
“Silakan gunakan HP untuk mencari informasi.”
Beberapa menit kemudian, siswa sudah berpindah ke media sosial.
Dari media sosial pindah ke video.
Dari video pindah ke game.
Dari game kembali ke pesan pribadi.
Dan ketika guru bertanya, “Sudah menemukan jawabannya?”
Jawabannya:
“Belum, Pak.”
Persoalannya bukan bahwa anak memiliki HP.
Persoalannya adalah anak belum selalu memiliki kemampuan mengendalikan HP.
Anak perlu diajari bahwa teknologi bukan hanya untuk hiburan. HP juga bisa digunakan untuk membaca jurnal, membuat desain, menulis, membuat video pembelajaran, belajar bahasa, mencari informasi, dan menghasilkan karya.
Jangan hanya mengajarkan anak cara menggunakan teknologi. Ajarkan pula cara mengendalikan teknologi.
--Ketika Rokok Dianggap sebagai Simbol Kedewasaan--
Masalah lain yang masih menghantui pendidikan kita adalah rokok.
Kementerian Kesehatan mencatat berdasarkan SKI 2023 bahwa Indonesia memiliki sekitar 70 juta perokok aktif, dengan 7,4% di antaranya berusia 10–18 tahun. Kemenkes juga mencatat bahwa prevalensi perokok pada anak sekolah usia 13–15 tahun berdasarkan GYTS meningkat dari 18,3% pada 2016 menjadi 19,2% pada 2019.
Angka tersebut bukan sekadar statistik.
Di balik angka itu ada anak-anak yang seharusnya sedang membangun masa depan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika rokok dianggap sebagai tanda kedewasaan.
Padahal kedewasaan bukan tentang berani merokok.
Kedewasaan adalah kemampuan mengendalikan diri.
Berani berkata tidak.
Berani menolak ajakan teman.
Berani menjaga kesehatan.
Berani memilih masa depan daripada kesenangan sesaat.
Karena itu, persoalan rokok tidak cukup diselesaikan dengan hukuman sekolah. Anak perlu memahami mengapa mereka harus menjaga dirinya.
Dan sekolah tidak bisa bekerja sendirian. Lingkungan keluarga, masyarakat, penjual, pemerintah, dan seluruh orang dewasa memiliki peran yang sama pentingnya.
--Anak yang Takut Salah--
Ada persoalan lain yang sering tidak terlihat.
Banyak siswa sebenarnya ingin menjawab, tetapi takut salah.
Guru bertanya.
Kelas diam.
Guru bertanya lagi.
Tetap diam.
Bukan selalu karena mereka tidak tahu.
Kadang mereka takut ditertawakan.
Takut dianggap bodoh.
Takut jawabannya salah.
Akhirnya mereka memilih diam.
Padahal belajar membutuhkan keberanian untuk salah.
Anak yang tidak pernah berani salah akan sulit berkembang.
Maka kelas harus menjadi tempat yang aman untuk mencoba.
Salah menjawab bukan berarti bodoh.
Gagal mengerjakan tugas bukan berarti masa depan selesai.
Tidak memahami pelajaran bukan berarti seseorang tidak memiliki masa depan.
Pendidikan justru harus mengajarkan bahwa kesalahan adalah bagian dari proses menjadi lebih baik.
--Budaya Instan: Ingin Hasil Tanpa Proses--
Barangkali inilah salah satu tantangan terbesar pendidikan saat ini.
Kita hidup dalam budaya serba cepat.
Ingin cepat terkenal.
Ingin cepat kaya.
Ingin cepat pintar.
Ingin cepat mendapatkan nilai tinggi.
Bahkan terkadang ingin mendapatkan jawaban tanpa melalui proses berpikir.
Teknologi membuat semuanya semakin mudah.
Namun pendidikan tidak pernah benar-benar instan.
Tidak ada kemampuan yang lahir tanpa latihan.
Tidak ada kemampuan berbicara tanpa keberanian mencoba.
Tidak ada kemampuan menulis tanpa membaca.
Tidak ada prestasi tanpa kegagalan.
Tidak ada kesuksesan tanpa disiplin.
Karena itu, guru perlu mengembalikan satu kata yang mungkin mulai dilupakan anak-anak kita:
PROSES.
Biarkan mereka mengalami kesulitan.
Biarkan mereka mencoba.
Biarkan mereka gagal.
Biarkan mereka memperbaiki.
Sebab anak yang selalu diberi jalan paling mudah belum tentu menjadi manusia yang kuat.
--Pacaran, Gaya, dan Keinginan untuk Diakui--
Masa remaja adalah masa mencari identitas.
Anak mulai memperhatikan penampilan.
Mulai tertarik kepada lawan jenis.
Mulai ingin diterima kelompok.
Mulai ingin terlihat keren.
Semua itu manusiawi.
Masalahnya muncul ketika pencarian identitas tersebut mengambil seluruh energi anak.
Ada siswa yang sangat serius memikirkan penampilan, tetapi tidak serius memikirkan keterampilan.
Ada yang rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk berkomunikasi dengan pasangan, tetapi sulit menyediakan waktu untuk membaca.
Ada yang sangat peduli dengan bagaimana dirinya terlihat di media sosial, tetapi tidak terlalu peduli dengan bagaimana masa depannya akan dibangun.
Penampilan tidak salah.
Pacaran bukan satu-satunya masalah.
Yang perlu kita ajarkan adalah skala prioritas.
Anak perlu memahami bahwa hidup bukan hanya tentang bagaimana dirinya terlihat hari ini.
Hidup juga tentang siapa dirinya lima atau sepuluh tahun mendatang.
--Cantik Itu Baik, Tetapi Cerdas Juga Penting--
Hal serupa dapat kita lihat pada sebagian siswa perempuan.
Ada yang sangat memperhatikan make-up, pakaian, rambut, kulit, bentuk tubuh, dan penampilan.
Sekali lagi, merawat diri bukan kesalahan.
Perempuan berhak tampil cantik.
Namun pendidikan perlu mengingatkan bahwa kecantikan bukan satu-satunya kekuatan seorang perempuan.
Cantik itu baik. Cerdas juga penting.
Cantik dapat membuat seseorang menarik perhatian.
Tetapi kecerdasan, keterampilan, karakter, dan kemandirian membuat seseorang mampu bertahan dalam kehidupan.
Dan pesan ini sebenarnya tidak hanya berlaku untuk perempuan.
Laki-laki juga tidak boleh hanya sibuk membangun penampilan, gengsi, dan popularitas.
Sebab masalah terbesar generasi kita bukan kurangnya orang yang ingin terlihat hebat.
Masalahnya adalah terlalu sedikit orang yang mau berproses untuk benar-benar menjadi hebat.
Tetapi, Jangan Semua Kesalahan Diberikan kepada Siswa
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Jangan sampai tulisan tentang sulitnya mendidik siswa berubah menjadi tulisan untuk menyalahkan siswa.
Anak tidak tumbuh sendirian.
Mereka dibentuk oleh keluarga.
Dibentuk oleh sekolah.
Dibentuk oleh teman.
Dibentuk oleh lingkungan.
Dan sekarang, mereka juga dibentuk oleh algoritma media sosial.
UNICEF menemukan bahwa banyak anak menggunakan internet setiap hari, sementara sebagian belum mendapatkan pembekalan yang memadai mengenai keamanan di ruang digital. Hanya 37,5% anak dalam studi tersebut yang pernah menerima informasi tentang cara menjaga keamanan saat daring.
Maka ketika anak kecanduan gawai, kita tidak cukup mengatakan:
“Anak sekarang memang malas.”
Kita harus bertanya:
“Siapa yang sedang mendidik mereka menggunakan teknologi?”
Ketika anak tidak suka membaca, kita perlu bertanya:
“Apakah lingkungan mereka memberi contoh budaya membaca?”
Ketika anak sulit disiplin, kita perlu bertanya:
“Apakah mereka melihat keteladanan disiplin dari orang dewasa?”
Pendidikan membutuhkan contoh.
Anak tidak hanya membutuhkan nasihat.
Anak membutuhkan keteladanan.
Guru Tidak Bisa Berjuang Sendirian
Guru sering dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap perilaku siswa.
Padahal guru memiliki waktu bersama siswa yang terbatas.
Setelah bel pulang berbunyi, siswa kembali kepada keluarganya dan lingkungannya.
Karena itu, pendidikan harus menjadi tanggung jawab bersama.
Orang tua mendidik.
Guru mendidik.
Masyarakat mendidik.
Lingkungan mendidik.
Bahkan apa yang dilihat anak di media sosial juga ikut mendidik.
Jika sekolah mengatakan “jangan merokok”, tetapi lingkungan sekitar memudahkan anak mendapatkan rokok, guru menghadapi perjuangan yang berat.
Jika guru meminta siswa mengurangi HP, tetapi orang dewasa di rumah sendiri tidak pernah lepas dari HP, pesan pendidikan menjadi tidak konsisten.
Jika guru meminta anak rajin membaca, tetapi anak tidak pernah melihat orang dewasa membaca, budaya literasi akan sulit tumbuh.
Anak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi dari apa yang mereka lihat.
Kita Tidak Kehilangan Generasi
Meskipun banyak persoalan, saya tidak percaya bahwa generasi sekarang adalah generasi yang buruk.
Tidak.
Mereka adalah generasi dengan potensi yang luar biasa.
Mereka kreatif.
Cepat belajar.
Mampu menggunakan teknologi.
Berani mencoba.
Mampu menghasilkan karya.
Mereka hanya hidup dalam dunia yang jauh lebih bising daripada generasi sebelumnya.
Mereka dibombardir informasi.
Dibombardir hiburan.
Dibombardir tren.
Dibombardir standar kecantikan.
Dibombardir popularitas.
Dibombardir tuntutan untuk terlihat berhasil.
Karena itu, mereka membutuhkan guru dan orang tua yang membantu mereka menemukan arah.
Bukan hanya orang yang memarahi mereka ketika salah.
Tetapi orang yang tetap percaya bahwa mereka dapat berubah.
Pendidikan Harus Mengajarkan Anak untuk Mendidik Dirinya Sendiri
Mungkin mendidik siswa saat ini memang sulit.
Tetapi sulit bukan berarti tidak mungkin.
Guru tidak harus memenangkan semua pertarungan dalam satu hari.
Satu siswa yang akhirnya berani berbicara di depan kelas adalah keberhasilan.
Satu siswa yang berhenti merokok adalah keberhasilan.
Satu siswa yang mulai membaca adalah keberhasilan.
Satu siswa yang memilih organisasi daripada kenakalan adalah keberhasilan.
Satu siswa yang mulai menggunakan HP untuk berkarya adalah keberhasilan.
Satu siswa yang gagal tetapi mau mencoba kembali adalah keberhasilan.
Sebab pendidikan bukan pekerjaan yang hasilnya selalu terlihat hari ini.
Kadang guru menanam hari ini, tetapi hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Maka jangan ukur keberhasilan pendidikan hanya dari nilai.
Jangan ukur hanya dari ijazah.
Jangan pula hanya dari ranking.
Ukurlah dari perubahan sikap.
Dari keberanian.
Dari tanggung jawab.
Dari kemampuan berpikir.
Dari cara anak memperlakukan orang lain.
Dan dari kemampuannya berdiri sendiri ketika suatu hari tidak ada lagi guru yang menyuruhnya.
Sebab pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan membuat anak selamanya bergantung kepada guru.
Tujuan pendidikan adalah membuat seorang anak perlahan-lahan mampu mendidik dirinya sendiri.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa guru harus terus bertahan.
Karena di balik siswa yang sulit diatur hari ini, mungkin ada seorang pemimpin yang sedang menunggu untuk ditemukan.
Di balik siswa yang malas hari ini, mungkin ada potensi yang belum menemukan alasan untuk tumbuh.
Di balik siswa yang sering melakukan kesalahan, mungkin ada manusia yang suatu hari akan belajar dari kesalahannya.
Kita tidak sedang kehilangan generasi.
Kita sedang mendidik generasi yang hidup di zaman yang berbeda.
Dan tugas kita bukan menyerah kepada zaman.
Tugas kita adalah membantu mereka menjadi manusia yang mampu hidup di dalamnya tanpa kehilangan dirinya.